


Nasabah bank khususnya yang melakukan transaksi kartu debet via ATM harus betul hati-hati. Sebab, potensi kehilangan uang masih cukup rawan seperti kasus uang tabungan 16 nasabah di tiga kantor unit BRI di Kediri yang hilang misterius, antara Rp 500 ribu-RP 10 juta. Diduga karena skimming atau pencurian data nasabah via kartu ATM.
Di Sumsel kasus yang sama juga terjadi. Salah satunya, Via, 27, warga Alang-Alang Lebar (AAL) yang mengaku kehilangan uang tabungannya senilai Rp 6,1 juta setelah transaksi ATM. Nasabah salah satu bank BUMD ini pun cerita, kejadiannya Rabu (14/3) sekitar pukul 09.00 WIB.
”Waktu itu suami saya mau tarik uang di ATM Center, tepatnya di seberang Klinik Rezky Medica, Jl Letjen Harun Sohar (arah Bandara),” ujarnya, tadi malam (18/3). Sang suami kemudian memasukkan kartu debet-nya ke salah satu ATM bank daerah, tapi justru tidak ada pilihan transaksi di layarnya.
”Biasanya kan ada menu pilihan transaksi, tapi ini yang muncul iklan. Ditunggu, kartu debit saya tidak keluar-keluar dan tertelan,” sebutnya.

Panik, sang suami mengontak call center di kertas yang tertempel di mesin ATM untuk blokir kartu debit dengan awal nomor 0813xxxx sepeti nomor telepon seluler. “Belakangan suami saya baru sadar setelah ngobrol, ternyata nomor call center itu palsu,” bebernya.
Saat itu yang ditelpon meyakinkan sekali seyogianya customer service (CS) bank, mengarahkan suaminya menekan tombol di bawah angka 9. “Tapi kartu tetap tidak keluar. Mereka lalu meminta menyebut nomor rekening. Karena tidak hapal, mereka sarankan suami ganti PIN (personal identification number),” jelasnya. Karena panik, suaminya seolah tak sadar dan mengikuti keinginan mereka. Setelah PIN diganti, kartu debit tetap tidak keluar, lalu mereka meminta suaminya urus ke bank.
”Tak lama, sekitar 30 menit, setelah cek di bank ternyata uang tabungannya langsung ludes Rp 6,1 juta,” bebernya. Informasi bank, ada 4 kali transaksi penarikan via ATM-nya dan 1 kali transfer ke rekening atas nama Agus Kurniawan, nasabah cabang bank BUMN di Kalidoni. “Saya usut ke bank tersebut, tapi bank tak mau beritahu pemilik rekening dan diminta lapor polisi,” sebutnya.
Kasus serupa juga sempat menimpa Andi, 35, warga Tebing Tinggi yang mengaku uang tabungannya di Bank BUMN tiba-tiba hilang dan hanya sisa saldo sedikit. “Dulu pernah, sebelum heboh sekarang. Waktu itu mau ambil uang di ATM untuk beli kambing, tapi waktu lihat ATM, saldonya tinggal sedikit padahal sebelumnya tak pernah menarik uang,” sebutnya. Saat ditanya ke pihak bank, ada yang melakukan penarikan, tapi dia tak tahu itu siapa. ”Setelah kami urus, menunggu beberapa hari, uang tabungan saya diganti bank,” cetusnya.
Sementara, Pemimpin BRI Wilayah Palembang, Eko Wahyudi mengklaim sejauh ini belum ada kasus nasabah kehilangan saldo karena skimmer atau pencurian data kartu ATM. Demikian juga diungkap Wapimwil Susilo Sudana. “Sejauh ini kasus itu belum terjadi. Namun nasabah juga diminta mengikuti saran yang ditetapkan. Imbauan kita sama dengan kantor pusat,” ungkapnya.
Imbauannya agar nasabah berhati-hati dalam bertransaksi. Beberapa cara pencegahan itu antara lain, nasabah harus sering gonta-ganti PIN. Hal ini penting agar ketika kemungkinan terburuk kartu terkena skimming, pelaku kejahatan tak bisa mentransaksikan kartu duplikat yang dimilikinya.
Nasabah juga perlu menutupi jarinya ketika memencet keypad angka di mesin ATM dan electronic data capture (EDC). Meskipun sudah ada tudung penutup jari di mesin-mesin ATM, nasabah tetap perlu melakukannya karena kadang skimmer bisa berupa kamera kecil yang dipasang di dalam tudung tersebut. Ditanya kasus sindikat pelaku kejahatan yang memanfaatkan e-commerce berasal dari Palembang, Susilo mengakui belum mendapat info lebih lanjut.
Untuk pesan Whatsapp mengenai notifikasi one time password (OTP) dari BRI dalam bertransaksi di Ayopop.com, Kepala Bagian E-Banking dan Card BRI Wilayah Palembang, M. Mufarih menuturkan, hal itu sejenis one time password. “Jadi, diabaikan saja atau dihapus,” jelasnya



