


Hampir semua makanan lezat tersaji dan dijajakan saat malam. Martabak, nasi goreng, coto makassar, ayam geprek, dan ragam makanan lain baru dijual pada pukul 6 sore sampai tengah malam. Bagi pediet, tentu hal ini jadi tantangan guna bisa menahan keinginan untuk makan malam.
Sebelum melaksanakan program diet, hampir setiap hari Hendra Jie mengonsumsi olahan ayam dan makanan cepat saji. Akibatnya, bobot tubuhnya semakin bertambah hampir menyentuh 100 kilogram (kg). Padahal, saat itu dirinya masih berbalut seragam putih abu-abu.
Saya paling suka makan fast food dan ayam geprek. Suka sekali, bahkan tengah malam juga enggak tahan ingin mengonsumsi makanan itu,” ujar pria yang akrab disapa Ahong itu kepada Kaltim Post, Rabu (6/3) lalu.
Apalagi sejak kecil, bentuk tubuhnya memang termasuk besar. Berat badannya pun semakin cepat bertambah, karena tidak menjaga pola makan yang benar. “Saat balita, ibu saya suka kasih suplemen untuk meningkatkan nafsu makan. Badan jadi gendut banget karena kebanyakan makan, tapi enggak pernah sampai 100 kg sih,” bebernya.

Meski tak pernah mendapat olokan gendut atau lainnya dari rekan-rekan sekolahnya dulu, Ahong merasa bosan dengan tubuh yang besar. Apalagi, tipe badan dia yang android, alias besar di bagian bahu, punggung, dan perut, risiko untuk terkena penyakit jantung cukup besar. Saat memakai baju juga tidak nyaman karena terlihat tak proporsional dengan tubuh laik buah apel.
“Makanya saya memutuskan untuk diet. Kendala saya selama diet hanya satu, cepat bosan. Olahraga lagi, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, begitu setiap hari. Bosan rasanya, meski hasilnya sudah terlihat sejak satu bulan diet,” ungkap dia.
Walaupun jenuh, Ahong tetap bertahan dan konsisten menjalani dietnya hingga mencapai target yang diinginkan. Demi menurunkan berat badan, pria berkulit putih tersebut telah mencoba beragam jenis diet.
“Dulu saya pernah mengonsumsi obat pembakar lemak. Tapi obat itu bikin jantung saya berdegup lebih cepat. Jadi, saya takut sakit dan tidak konsumsi lagi,” ungkap mahasiswa Universitas Mulawarman Jurusan Ilmu Komunikasi itu.
Walau tubuh bakal cepat berkeringat, Ahong tak mau melanjutkan diet menggunakan obat pembakar lemak, karena khawatir akan membuatnya sakit suatu saat. “Dua minggu konsumsi itu, langsung stop. Fokus olahraga dan makan-minum sehat saja. Saya bersyukur masih sehat sampai saat ini,” pungkasnya. (Sumber, Kaltim.prokal)



