



SIAGANEWS.CO – Ajang kreativitas puluhan komunitas Kota Pekanbaru, “Speak Art” berlangsung cukup sukses untuk menunjukan geliat kreatifitas anak muda di daerah berjuluk Kota Bertuah itu.
Selama penyelenggaran dua hari pada 30-31 Agustus di Sapulidi Center Jalan Pahlawan Kerja, Pekanbaru, acara yang mengusung tema “Banyak Bicara Banyak Karya” ini bagaikan membuka gerbang bahwa Pekanbaru sebenarnya punya potensi besar untuk menghasilkan industri kreatif yang bisa diperhitungkan di masa depan. Sebuah awal bagi “Pekanbaru Movement” dimana anak muda sebagai motornya.
“Acara ini berawal dari kegelisahan anak-anak muda karena komunitas banyak tapi tidak ada wadah untuk menunjukannya,” kata Yuri Chersih, salah satu panitia acara kepada Antara, Rabu (31/8).
Ia mengatakan dari kegelisahan itu sejumlah anak muda kemudian berkumpul membentu “Artgasm”, gerakan swadaya untuk mendukung komunitas lokal, dan brand lokal yang harapannya bisa menjadi pahlawan (hero) dari skala terkecil di Pekanbaru. Ia mengatakan sangat mengapresiasi kawan-kawan komunitas di Pekanbaru yang mau bergabung, dan juga pihak sponsor yang membantu menyukseskan acara itu.

“Seluruh komunitas di Pekanbaru memang seharusnya bergabung, saling support satu sama lain supaya kita lebih didengar dan maju. Acara Speak Art ini sangat berguna untuk komunitas dan semoga ini jadi awalnya,” kata Yuri.
Salah satu panitia, Andika Dyas, menambahkan tujuan dari Speak Art adalah memperkuat komunitas lokal yang punya potensi besar menjadi industri kreatif. Karena itu, sebelum penyelenggaraan Speak Art juga diawali dengan pelatihan terlebih dulu. Bahkan, pada acara hari kedua juga diisi dengan worshop dari seniman visual art Pekanbaru Baron Maezar.
“Ada workshop supaya komunitas bisa berkembang,” kata pria yang kerap disapa Omdyas ini.
Puluhan komunitas Pekanbaru “digandeng” untuk mengisi acara itu yang dibagi dalam empat subkultur. Diantaranya seperti komunitas fotografi Instameet Pekanbaru dan Pekanbaru Photo Collective. Komunitas vusial art seperti Peviart, Sikari, Loser Kids, dan Unique Metriq.
Kemudian subkultur “marketplace” seperti Trustday, Maryam IDN, Indigo Project, dan Stupid.co. Selain itu, ada juga grup musik diantaranya seperti Jimjack, Komedi Putar, Teropong Masa Depan, Makmur Jaya Abadi, Fuse, Marlon Brando, Rimakata, Ape Look at dan Maltreat Deafen.
“Perlu diketahui, Jimjack menjadi band lokal Pekanbaru yang akan tampil di Soundrenaline 2016 di Bali,” kata Omdyas. (ant)



