


Siak, Siaga news.id – Puluhan siswa dan siswi SMA Negeri 2 Tualang mendatangi dapur Aneka Kuliner Nusantara (AKN) yang berlokasi di Kampung Tualang, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak pada, Jumat malam (13/3/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Kedatangan para pelajar ke dapur naungan Yayasan An Nur tersebut memicu kekecewaan karena bantuan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijanjikan sejak sore hari tak kunjung datang disalurkan oleh pihak penyedia dapur.
Situasi sempat memanas. Para siswa memenuhi komitmen pihak dapur yang sebelumnya menjanjikan penyaluran paket MBG yang terdiri dari makanan basah dan makanan kering untuk beberapa hari ke depan. Namun hingga malam tiba, bantuan tersebut tidak segera diberikan.
Ketegangan di lokasi beruntung dapat diredam setelah aparat dari Polsek Tualang tiba dan mengatur situasi, menenangkan sekaligus para siswa agar tidak terjadi transmisi yang lebih besar.

Seorang siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan, mereka datang bukan untuk membuat janji, melainkan menuntut kepastian terkait bantuan yang menjanjikan.
“Kami datang bantuan ke dapur ini hanya ingin bertanya kenapa MBG yang menjanjikan sejak sore tidak juga disalurkan. Kami menunggu dari sore, tapi sampai malam tidak ada kepastian. Wajar kalau kami kecewa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa bantuan MBG yang hendak disalurkan kali ini mencakup kebutuhan untuk empat hari ke depan, sehingga para siswa merasa sayang jika tidak diambil.
“Ini untuk empat hari ke depan. Kalau tidak diambil tentu rugi. Kami hanya ingin kepastian saja, jangan sampai sudah berjanji tapi malah tidak diberikan,” tambahnya.
Di hadapan Koordinator BGN Kabupaten Siak, Lisa Wahari, terjadi kejadian terbuka antara pihak dapur dan tim pengelola program. Akuntan Gizi SPPG AKN, Syahrezi Fauzah, dan pemilik dapur Beriansyah Cipta Nasution, tampak saling menyampaikan klarifikasi terkait keterlambatan penyaluran tersebut.
Beriansyah selaku pemilik dapur AKN mengaku penundaan terjadi karena tidak adanya pemberitahuan yang jelas dari Kepala SPPG AKN, Rahmat.
“Kami tidak menerima pemberitahuan dari Rahmat bahwa MBG boleh disalurkan pada hari berikutnya,” kata Beriansyah.
Pernyataan itu langsung disampaikan oleh Akuntan Gizi Syahrezi Fauzah, yang akrab disapa Rezi. Ia menegaskan bahwa informasi terkait perubahan jadwal sebenarnya sudah disampaikan di grup internal.
“Chat dari Kak Lisa yang menjelaskan bahwa penyaluran bisa dilakukan di hari berikutnya sebenarnya sudah ditambahkan ke grup inti,” jelas Rezi.
Namun bantahan itu kembali dipersoalkan oleh Beriansyah. “Memang ada disampaikan sekitar jam 10.30, tapi saat itu kami masih berdiskusi di dapur. Bahkan sempat disampaikan juga bahwa kalau tidak disalurkan, dapur bisa dianggap bermasalah,” ujarnya.
Beriansyah juga mengakui pihak dapur memanggil karena menu baru muncul menjelang siang, sehingga proses penyediaan bahan dan distribusi menjadi terlambat.
“Kami benar-benar kelabakan. Menu baru muncul sekitar pukul 10.30 pagi. Dari situ kami harus menyiapkan semuanya, sementara masalah pemasok juga ada. Jadi proses penginapannya cukup lama,” terangnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Siak, Lisa Wahari, menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan para siswa atas kejadian tersebut.
“Saya sebagai koordinator wilayah juga menyampaikan permohonan maaf. Kemungkinan ini terjadi karena miskomunikasi antara pihak dapur, mitra, dan kepala SPPG. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah. Mudah-mudahan persoalan ini bisa selesai dan tidak terulang lagi,” ucapnya.
Lisa juga menjelaskan bahwa terdapat perubahan kebijakan dari BGN terkait penyediaan menu pada hari Jumat.
“Memang ada perubahan kebijakan dari BGN sejak Kamis malam. Untuk hari Jumat ada yang termasuk menu spesial. Satu SPPG harus menyiapkan sekitar 70 ribu porsi, sehingga membutuhkan persiapan yang lebih besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak dapur sebenarnya diberi opsi untuk menunda penyaluran jika tidak mampu menyiapkan menu tepat waktu.
“Kalau memang mampu disiapkan pada hari Jumat, silakan disalurkan. Namun jika tidak memungkinkan, kami sebenarnya memberi opsi untuk mundur ke hari Sabtu,” tutupnya.
Meski akhirnya bantuan MBG berupa makanan basah dan makanan kering untuk empat hari ke depan berhasil disalurkan, kejadian ini menyisakan pertanyaan besar terkait kesiapan dapur mitra dalam menjalankan program nasional tersebut.
Keterlambatan penyaluran yang memicu aksi protes pelajar dinilai menjadi alarm keras bagi pengelola dapur MBG agar lebih profesional dan siap secara logistik, sehingga program yang seharusnya membantu siswa justru tidak berubah menjadi sumber mengecewakan.



