


SIAGANEWS.CO – Delapan bulan lebih Inspektur Jendral Polisi Anton Charliyan mengemban tugas sebagai pimpinan tertinggi di Kepolisian Daerah Jawa Barat (Kapolda).
Berbagai rangkaian peristiwa baik teror bom dan tindakan kriminal lainnya terus mewarnai perjalanan kepemimpinan pria kelahiran Tasikmalaya tahun 1960 silam itu.
Bahkan di masa kepemimpinannya, 40 orang dari 60 tersangka pelaku tindakan terorisme adalah warga Jawa Barat yang berhasil di amankan. Hal itu tidak terlepas dari berbagai usaha yang ia (Anton Charliyan) lakukan untuk membawa dan memberikan rasa aman dan nyaman serta kondusif bagi warga Jawa Barat. Seperti yang sama di ketahui, Jawa Barat adalah kantong kantong tumbuhnya paham Radikaslime.
Namun hal itu tidak membuat surut semangat jendral bintang dua itu dalam membumi hanguskan gerakan gerakan radikalisme di bumi Tatar Pasundan. Delapan bulan lebih mengemban tugas sebagai Kapolda Jawa Barat, selama itu juga ia intens memerangi gerakan yang hendak memecah belah bangsa. ia merangkul para tokoh agama, tokoh budaya, LSM, Ormas, rektor, dekan, para dosen dan Mahasiswa se-Jawa Barat untuk bersama sama memerangi gerakan yang anti Pancasila.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ia bersilaturahmi ke Pondok Pesantren As-Shidqu, disana Irjen Anton Charliyan di sambut dengan sangat meriah oleh seluruh santri dan santriwati bersama dengan pimpinan pondok pesantren tersebut, kemudian bersama FKPD, Toga, Tomas se-Kabupaten Kuningan.
Begitu pun di Kabupaten Subang, Jawa Barat, setelah Anton memaparkan tentang bagaimana gerakan radikalisme dan intolerans berkembang dan bagaimana cara memerangi radikalisme, FKPD, Ormas, Toga, Tomas, LSM se-Kabupaten Subang yang hadir saat itu langsung melakukan deklarasi kebangsaan berikrar bersama sama menjaga NKRI dari perpecahan.
Gerakan memerangi radikalisme dan intolerans terus ia gelorakan dari pondok pesantren yang satu ke pondok pesantren yang lain, Anton bahkan keliling ke beberapa kampus di Jawa Barat hingga ke beberapa kampus ibu kota Jakarta. tujuannya, kata Anton Charliyan adalah, untuk membawa Jawa Barat ini terbebas dari paham paham radikalisme dan intolerans.
“Karena di Jawa Barat itu rentan radikalisme dan intoleransi, disini (Jawa Barat) diperlukan seorang pemimpin yang tegas dan berani yang mampu menjamin keamanan dan kepastian hukum, karena disini masih ada ideologi ideologi yang ingin mendirikan NII dan inilah akar dari radikalisme dan intolerans” Kata Anton usai menghadiri undangan Curah Gagasan Balon Gubernur Jawa Barat yang di gelar oleh PDIP di Hotel Horison, Bandung, Rabu (25-10-2017).
Salah satu tokoh agama di Jawa Barat yakni Pimpinan Majlis Al-arifiyah wal muhibbiin pesantren Surya Medar, R. Mohamad Arif Nujabah mengatakan saat ini jendral yang getol memerangi gerakan radikalisme itu kini diusung oleh para tokoh agama dan masyarakat untuk maju sebagai balon Gubernur Jawa Barat. (TBnews)



